HIMA SI STMIK Teknokrat, Konsisten dalam Penanggulangan HIV/AIDS
en id
Sunday, 20 May 2018

Latest News

HIMA SI STMIK Teknokrat, Konsisten dalam Penanggulangan HIV/AIDS

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah Lentivirus (anggota dari keluarga Letrovirus) yang merupakan penyebab dari acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), dimana keprihatinan terhadap perkembangan virus tersebut harus tetap diprioritaskan.  Bagaimana tidak, AIDS bagaikan momok bagi kita. Karena hingga detik ini masih sedikit penderitanya yang bisa disembuhkan. Hal tersebut semakin diperkuat dengan peningkatan jumlah penyebaran virus HIV tiap tahunnya. Dari 26.000 orang penderita HIV, 30 % adalah ibu rumah tangga. Angka ini seharusnya menjadi peringatan penting bagi pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus tersebut. Karena jika sebagian besar penderita adalah kaum wanita, maka akan menjadi perhatian khusus terhadap bayi-bayi yang akan dilahirkan. Pada tahun 2011, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan komulatif jumlah kasus terbanyak, yaitu 1.112 kasus. Kemudian Papua 601 kasus, Jawa Timur 520, JawaTengah  412 kasus dan Bali 370 kasus. Bukan jumlah yang sedikit, namun hingga saat ini belum ditemukan obat untuk kasus HIV AIDS. Ironisnya, 40 % diidap oleh kaum muda. Di provinsi Lampung sendiri, berdasarkan data dari dinas kesehatan Provinsi Lampung, data untuk penderita HIV di Provinsi Lampung hingga bulan oktober 2012 tercatat sebanyak 1.266 orang, dengan perincian 657 orang laki-laki dan sisanya adalah wanita.  Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi dinas kesehatan untuk terus memerangi penyebaran virus HIV.
 
Banyak masyarakat menanggapi bahwa penderita HIV/AIDS merupakan sampah bagi masyarakat yang harus dikucilkan karena besarnya rasa takut akan penyebarannya.  Pemahaman yang kurang sebanding dengan kenyataannya dikalangan masyakarat menyebabkan penderita semakin tertindas dan menyembunyikan keadaannya tersebut. Pada dasarnya  penyebaran virus HIV hanya bisa dilakukan dengan melalui beberapa cara, yaitu: hubungan badan (bersetubuh), penggunaan jarum suntik secara bersamaan dengan pengguna, penggunaan narkoba, ibu hamil bagi bayi yang dikandungnya, dan transfuse darah. Menteri kesehatan memastikan agar standar yang telah dibuat untuk donor darah yang akan ditransfusikan. Semua penyakit yang dapat ditularkan melalui darah, harus diperiksa pada saat transfuse darah. Malaria, shipilis, HIV, dan  hepatitis adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui darah.
 
Meskipun pemerintah telah memiliki sejumlah program untuk penanggulangan pencegahan penyebaran virus HIV, namun faktanya setiap tahun angka penderita terus meningkat, untuk itu kita harus waspada dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan melakukan pola hidup yang sehat. Secara kebijakan, tatanan implementasi layanan kesehatan yang tersedia masih sering melakukan diskriminasi. Masyarakat harus diberikan informasi lebih tentang penularan virus HIV, agar penderita penyakit AIDS, tidak dikucilkan atau mendapat diskriminasi.
 
 
 
Dalam rangka memperingati hari AIDS yang jatuh pada tanggal 1 Desember, mahasiswa STMIK Teknokrat yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sistem Infromasi (HIMA SI) Teknokrat, menggelar kegiatan bakti sosial dalam bentuk donor darah dan pembagian bunga serta pensosialisasian keberadaan dan proses penanggulangan HIV kepada para warga belajar (SMP dan SMA), pengendara di jalan umum, dan masyarakat sekitar. Bakti sosial yang merupakan kegiatan tahunan di bawah naungan HIMA SI ini mengangkat tema “Lindungi kaum wanita dan anak dari penyakit HIV/AIDS”. Kegiatan yang diketuai oleh Diwanti Marina kali ini mampu menggalang jumlah pendonor darah sebanyak 73 peserta dari kalangan M    ahasiswa dan Dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Teknokrat. 
Go to Top